This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 21 Desember 2016

RELASI MAKNA

Assalamualaikum
Apakabar  sobat?. Semoga tidak bosan ya dengan mimin. Karena artikel kali ini mimin akan bahas materi baru lagi kali ini saya ambil dari matakuliah semantik. Mimin suka sekali dengan dosen ini karena beliau sangat menguasai materi,cerdas yang paling penting adalah tidak pandang bulu. Karena bukan rahasia lagi jika banyak dosen yang pandang bulu dan memberikan nilai dengan hati jadi bukan karena nilai tugas ataupun kehadiran ya :D. Dalam mata kuliah         beliau saya ambil bab tentang RELASI MAKNA dan beliau memakai sebuah buku yang    judulnya PENGANTAR SEMANTIK BAHASA INDONESIA yang di terbitkan oleh bandung rinieka  cipta jadi apa sih relasi makna itu?. Dalam suatu    bahasa, makna kata saling berhubungan,  hubungan ini disebut relaksi makna. Relasi makna dapat berwujud bermacam-macam. Dalam setiap bahasa termasuk bahasa Indonesia, seringkali kita temukan adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainya dengan kata satuan bahasa lainnya.
            Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin menyangkut hal kesamaan makna (sinonimi), kebalikan makna (antonimi) kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi), dan sebagainyaDalam setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, makna kata saling berhubungan, hubungan kata itu disebut relasi makna. Relasi makna dapat berwujud bermacam- macam antara lain : sinonimi, antonimi dan oposisi,    homonimi, homofoni, homografi, hiponimi dan hipernimi, polisemi, ambiguitas,     redundansi. Disini saya akan menjelaskan satu persatu ini saya ambil dari buku pengantar semntik bahasa Indonesia .
1.      Sinonimi
Secara etimologi kata sinonimi berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti ‘nana’, dan syn yang berarti ‘nama lain untuk benda atau hal yang sama’. Sacara samantik Verhaar (1978) mendefenisikan sinonimi    sebagai ungkapan (bias berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
Contoh :
Buruk              =  jelek
Laris                =  laku
Dahaga                        =  haus
Datan              =  tiba
Pintar                =  pandai
Usang              =  lama
Hancur             =  musnah
Pulang             =  kembali = balik
Masyarakat                  =  rakyat = warga
Hadiah                                    =  pemberian
Pria                              =  laki- laki
Enak                            =  lezat
Tampan                                   =  ganteng
Hanjur                         =  musnah
Mati                             =  meninggal
Dari contoh diatas dapat dilihat kata – kata bersinonim, dan tidak semua      sinonim bisa dipertukarkan begitu saja.
Contoh kalimat :
Anjing meninggal ditabrak mobil
Kata meninggal pada kalimat di atas tidak tepat, karena kata meninggal lebih tepat ditujukan kepada manusia, atau kata meninggal diganti dengan kata mati. Yang lebih tepatnya anjing mati ditabrak mobil. Jadi kata sinonim bisa digunakan sesuai dengan kepada siapa yang ditujukan pembicaraan tersebut. Misalnya kata aku dan saya kedua kata tersebut bersinonim, tapi kata aku lebih tepat dipakai untuk teman sebaya, dan kata saya lebih tepat digunakan untuk orang yang lebih tua dari kita. Jadi, kata sinonim digunakan sesuai dengan waktu,  tempat,bidang kegiatan,dan lain – lain.
Makna dua buah kata yang bersinonim tidak pernah mempunyai makna yang sama persis, mutlak atau simetris. Kesinoniman mutlak atau kesinoniman simetris tidak ada dalam perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia. Hal itu disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a. Waktu
Misalnya kata hulubalang dan komandan merupakan dua buah kata yang bersinonim tetapi karena faktor waktu, maka kedua kata tersebut tidak bisa dipertukarkan. Hulubalang hanya cocok untuk situasi kuno, sedangkan komandan cocok untuk situasi masa kini.
b. Tempat atau daerah
Misalnya kata saya dan beta merupakan dua kata yang bersinonim , tetapi kedua kata tersebut tidak dapat dipertukarkan. Beta hanya cocok digunakan dalam konteks pemakaian bahasa Indonesia timur (Maluku).
c. Sosial
Misalnya aku dan saya adalah dua buah kata yang bersinonim, teapi kata aku hanya dapat digunakan untuk teman sebaya dan tidak digunakan kepada orang yang lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi.
d. Bidang Kegiatan
Misalnya kata tasawuf, kebatinan, dan mistik adalah tiga buah kata yang bersionim. Namun kata tasawuf hanya lazim dalam agama islam, kebatinan untuk yang bukan islam dan mistik untuk semua agama.
e. Nuansa Makna
Misalnya kata-kata melihat, melirik, melotot, meninjau, atau mengintip adalah kata-kata yang bersinonim. Kata melihat bisa digunakan secara umum, tetapi kata melirik hanya digunakan untuk menyatakan melihat dengan sudut mata, melolot hanya digunakan dengan mata terbuka lebar, meninjau hanya digunakan hanya dugunakan hanya dugunakan untuk menyatakan melihat dari tempat yang jauh.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sinonim bahasa Indonesia
1)   tidak semua kata dalam bahasa Indonesia memiliki sinonim. Misalnya kata salju, batu, kuning, beras, tidak mempunyai sinonim.
2)   kata-kata  bersinonim pada bentuk dasar tetapi tidak pada bentuk jadian. Mislanya kata benar dan betul, tetapi kata kebenaran dan kebetulan tidak bersinonim.
3)   kata-kata yang tidak mempunyai sinonim pada bentuk dasar tetapi memiliki sinonim pada bentuk jadian. Misalnya kata jemur tidak mempunyai sinonim tetapi kata menjemur ada sinonimnya, yaitu mengeringkan, dan berjemur besinonim dengan berpanas.
4)   ada kata-kata yang yang dalam arti sebenarnya tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam arti kiasan justru mempunyai sinonim, misalnya kata hitam dalam arti sebenarnya tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam arti kiasan hitam bersnonim dengan gelap, buruk, jahat dsb.

2. Antonimi dan oposisi
Verhaar (1978) mendefinisikan antonimi adalah ungkapan (bisa berupa kata, tetapi dapat juga berbentuk frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain. Antonimi sering disebut dengan lawan kata, maksudnya maknanya kebalikan dari makna ungkapan lain.
Contoh :
Jujur    = bohong
Tipis    = tebal
Rajin   = malas
Pintar  = bodoh
Mahal  = murah
Kaya   = miskin
Surga   =  neraka
Gila     = waras
          
Berdasarkan sifatnya, oposisi dapat dibedakan menjadi :
a.        Oposisi Mutlak
Disini terdapat pertentangan makna secara mutlak. Umpamanya kata masuk dan keluar. Diantara masuk dan keluar terdapat makna yang mutlak, sebab sesuatu yang masuk tentu tidak ( belum ) keluar ; sedangkan sesuatu yang keluar tentu sudah masuk. Misalnya naik dan turun. Diantara naik dan turun terdapat makna yang mutlak, sebab sesuatu yang naik tentu tidak (belum) turun; sedangkan sesuatu yang turun tentu sudah naik.kedua proses ini tidak dapat berlangsung bersamaan, tetapi secara bergantian.

b.      Oposisi Kutub
Makna kata yang termasuk oposisi kutub ini pertentangan tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat gradisi, artinya terdapat tingkat – tingkat makna pada kata tersebut. Misalnya kata kaya dan miskin adalah dua buah kata yang beroposisi kutub. Pertentangan antara kaya dan miskin tidak mutlak. Orang yang tidak kaya belum tentu merasa miskin, dan begitu juga orang yang tidak miskin belum tentu merasa kaya. Bila orang yang biasa berpendapatan satu bulan enam juta , lalu tiba – tiba menjadi satu juta rupiah, sudah merasa dirinya miskin, sebaliknya orang seseorang yang setiap bulan hanya berpenghasilan Rp 100.000 ,lalu tiba- tiba berpenghasilan Rp 500.000 sudah merasa dirinya kaya.

c.       Oposisi Hubungan
      Oposisi hubungan ini sifatnya saling melengkapi. Artinya kehadiran kata yang satu karena ada kata yang lain yang menjadi oposisinya.Misalnya berlajar dan mengajar walaupun maknanya berlawanan tapi kejadiannya serempak. Proses belajar dan mengajar terjadi pada waktu yang bersamaan sehingga bisa dikatakan tadakkan ada proses mengajar jika tak ada proses belajar. Contoh memberi dan menerima walaupun maknanya berlawanan tapi kejadiannya serempak. Proses memberi dan menerima terjadi pada waktu bersamaan sehingga bisa dikatakan tidakkan ada proses memberi jika tidak ada yang menerima. Contoh lainnya kata menjual beroposisi dengan membeli, suami degan istri. Kata-kata yang beropsosisi hubungan ini bisa berupa kata-kata kerja seperti maju-mundur, pulang-pergi, pasang-surut, atau berupa kata benda misalnya ayah-ibu, guru-murid

d.      Oposisi Hierarkial
Makna kata kata yang beroposisi hierakrial ini menyatakan suatu deret jenjang atau tindakan. Oleh karena itu kata-kata yang beroposisi hierarkial ini adalah kata-kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang dan isi), nama satuan hitungan dan penanggalan, nama jenjang kepangkatan dan sebagainya.
Misalnya meter beroposisi dengan kilometer karena beraada dalam satuan yang menyakatan panjang. Kuintal  beroposisi dengan ton karena keduanya berada dalam satuan ukuran yang menyatakan berat.

e.  Oposisi  majemuk
     Oposisi majemuk ini beroposisi lebih dari sebuah kata. Mislanya kata berdiri bisa beroposisi dengan kata duduk, berbaring,berjongkok dsb.  Misalnya kata diam beroposisi dengan berbicara, bergerak, dan bekerja. Kata – kata diatas lazim disebut oposisi majemuk.
3. Homonimi, Homofoni, Homografi
a.   Homonimi
Verhaar (1978) mendefiniskan  homonimi sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan lain tetapi maknanya tidak sama.
Misalnya bisa yang bermakna racun ular dan bisa yang bermakna sanggup.
Ada dua sebab kemungkinan terjadinya homonimi yaitu:
1.        Bentuk-bentuk yang berhomonimi itu berasal dari bahasa atau dialek yang berlainan. Misalnya bisa yang berati racun berasal dari bahasa Melayu, sedangkan bisa yang berarti sanggup berasal dari bahasa Jawa.
2.        Bentuk-bentuk yang berhomonimi itu terjadi sebagai hasil proses morfologis. Mislanya mengukur dalam kalimat. Ibu mengukur kelapa di dapur, adalah berhomonim pada kalimat ayah mengukur luasnya  halaman rumah kami.

Homonimi juga terjadi pada tataran morfem, kata, frase, dan kalimat
a)        Homonimi antarmorfem, tentunya antara sebuah morfem terikat dengan morfem terikat lainnya. Mislanya morfem –nya pada kalimat, ini buku saya, itu bukumu dan dan yang disana bukunya berhomonim dengan –nya pada kalimat mau belajar tapi bukunya tidak ada.
b)        Homonimi antarkata misalnya bisa yang bermakna sanggup dan bisa yang bermakna racun ular. Semi yang bermakna tunas dan semi yang bermakna setengah.
c)        Hominimi antarfrase, misalnya antara frase cinta anak yang bermakan cita seorang anak kepada orang tuanya dengan cinta anak yang bermakna cinta orang tua kepada anaknya. lukisan saya yang bermakna lukisan karya saya, lukisan milik saya atau lukisan wajah saya.
d)       Homonimi antarkalimat misalnya istri lurah yang baru itu cantik  yang bermakna lurah yang baru dilantik itu mempunyai istri yang cantik, dengan lurah itu baru saja menikah dengan seorang wanita cantik.


b.   Homofoni
Homofoni berasal dari dua kata yaitu kata homo yang bermakna sama dan fon yang bermakna bunyi, jadi homofoni adalah kata-kata yang mempununyai bentuk yang berbeda, maknanya berbeda tetapi mempunyai bunyi yang sama. Misalnya kata bang dengan bank. Bank adalah lembaga yang mengurus lalu lintas uang, sedangkan bang berasal dari abang yang bermakna kakak laki-laki. Sangsi dengan sanksi, sangsi yang bermakna ragu dengan sanksi yang bermakna akibat atau konsekuensi.

c.   Homografi
Homografi secara etimologi beras dari kata homo yang bermakna sama dengan graf yang bermakna tulisan, jadi homografi adalah kata-kata mempunyai tulisan yang sama tetapi bunyi dan maknanya berbeda. Misalnya teras dengan teras, teras yang pertama dilafalkan teras bermakna  inti kayu dan teras yang kedua dilafalkan teras yang bermakna bagian dari rumah. Apel dengan apel, apel yang pertama dilafalkan apěl yang bermakna upacara dan apel yang dilafalkan apel yang bermakna buah apel.

4. Hiponimi dan Hipernimi
Kata hiponimi barasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu onoma berarti ‘nama’ dan hypo berarti’di bawah’. Jadi secara harfiah berarti ‘nama yang termasuk di bawah nama lain. Secara semantik Verhaar (1978:137) menyatakan hiponim ialah ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi kiranya dapat juga frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain.
Hipernimi adalah kata-kata yang mewakili banyak kata lain. Kata hipernimi dapat menjadi kata umum dari penyebutan kata-kata lainnya. Konsep hipernimi adalah kebalikan dari konsep hiponimi. Konsep hiponimi dan hipernimi mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya makna sebuah kata  yang berada di bawah makna kata lainnya. Oleh karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernim dari sebuah kata merupakan hipernim dari kata lainnya, akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang hierarkial di atasnya.
Contoh:
·           Hipernimi: Ikan
·           Hiponimi: Lumba-lumba, tenggiri, hiu, mujaer, sepat, mas, nila dan sebagainya.

·           Hipernimi: Bunga
·           Hiponimi: mawar, melati, anggrek, lili, dan sebagainnya.

5. Polisemi
    Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, frase, ) yang memiliki makna lebih dari satu.
Misalnya kata kepala dalam bahasa Indonesia memiliki makna
·           Bagian tubuh dari leher ke atas (seperti terdapat pada manusia dan hewan)
·           Bagian dari sesuatu yang terletak di bagian atas atau depan yang merupakan bagian yang penting (kepala Ketera api, kepala meja).
·           Bagian dari sesuatu yang berbentuk bulat (kepala paku, kepla jarum)
·           Pemimpin atau ketua (kepala sekolah, kepala kantor)
·           Jiwa orang seperti dalam kalimat “setiap kepala menerima bantuan RP. 5000.000”
·           Akal budi seperti dalam kalimat “ badanya besar tetapi kepalanya kosong”.
Konsep polisemi hampir sama dengan konsep homonimi. Perbedaanya adalah homonimi bukanlah sebuah kata, melainkan dua buah kata atau lebih yang kebetulan maknanya sama. Tentu saja homonimi itu bukan sebuah kata maka maknanya pun berbeda. Makna  kata pada homonimi tidak ada kaitannya atau hubungannya sama sekali antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan  polisemi adalah sebuah kata yang memiliki makna lebih dari satu, makna kata pada polisemi masih ada hubungannya antara makna yang satu dengan yang lain karen memang kembangkan dari komponen-komponen makna kata-kata tersebut.

6. Ambiguitas
          Ambiguitas adalah ketaksaan sering diartikan sebagai kata yang bermakna ganda atau mendua arti. Pengertian ambiguitas hampir sama dengan pengertain polisemi. Perbedaanya terletak pada kegandaan makna dalam polisemi dari kata, sedangkan kegandaan makna pada ambiguitas berasal dari satuan yang lebih besar yaitu frase atau kalimat dan terjadi akibat penafsiran struktur gramatikal yang berbeda.
          Misalnya buku sejarah baru dapat ditasfirkan sebagai (1)  buku sejarah itu baru terbit, (2) buku itu berisi sejarah zaman baru. Contoh lain orang malas lewat sana dapat ditafsirkan sebagai (1) jarang ada orang yang mau lewat si sini, atau (2) yang mau lewat di sini hanya orang-orang malas.
Pengertian ambiguitas hampir sama dengan homonimi. Perbedaanya terletak pada apabila homonimi dilihat sebagai bentuk yang kebetulan sama dan dengan makna yang berbeda, sedangkan ambiguitas adalah sebuah bentuk dengan makna yang berbeda sebagai akibat dari berbedanya penafsiran struktur gramatikal bentuk tersebut. Ambiguitas hanya terjadi pada tataran frase dann kalimat sedangkan homonimi dapat terjadi pada semua satuan gramatikal.


7. Redundansi
     Redudansi artinya sebagai berlebih- lebihan pemakaian unsur segmental dalam suatu bentuk ujaran. Umpamanya ibu membuat kue, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan kue dibuat oleh ibu. Pemakaian kata oleh pada kalimat yang kedua dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang sebenarnya tidak perlu. Contoh lain ; petani mencangkul kebunnya, maknanya tidak akan berubah bila dikatakan  petani sedang mencangkul kebunnya. Pemakaian kata sedang pada kalimat yang kedua dianggap sebagai sesuatu yang redundansi, yang sebenarnya tidak perlu. Makna adalah sesuatu yang fononema dalam ujaran , sedangkan informasi adalah sesuatu yang diluar ujaran. Jadi yang sama antara kalimat pertama dan kalimat kedua di atas bukan maknanya melainkan informasi.
Demikian ya sobat share materi tentang relasi makna semoga bermanfaat .Wassalamualaikum :). Keep smile and matursuwun.




Menulis Catatan Kaki

Assalamualaikum wr wb
Apakabar sobat?, mimin kembali lagi yang pastinya dengan share ilmu baru lagi kali ini saya bakal share tentang teknik penulisan catatan kaki. Tentu sobat tidak asing ya?. Bahkan materi ini sudah diajarkan saat kita duduk di bangku SMP namun tidak sedikit juga yang menyepelekan pelajaran satu ini, padahal sangat penting lo sobat apalagi jika kita melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi khususnya menjadi mahasiswa pasti catatan kaki sangat di butuhkan saat kita membuat suatu makalah ataupun buku saat kita mengambil refrensi dari buku orang. Sebelumkita bahas lebih lanjut ada baiknya kita harus tau dulu nih apa yang dimaksud catatan kaki Catatan kaki (footnote) adalah teknik penulisan yang berfungsi untuk menandai identitas sumber data atau kutipan yang ditulis di bawah bodi teks. Selain itu, footnote juga dapat digunakan untuk memberikan keterangan tambahan tentang suatu subyek atau persoalan yang tidak mungkin dijelaskan dalam bodi teks namun masih sangat berkaitan dengan persoalan yang dibahas. Penjelasan seperti itu harus ditempatkan pada footnote, karena jika dituliskan dalam bodi teks akan mengganggu alur pembahasan.
Di samping catatan kaki, terdapat dua teknik penulisan lain, yaitu catatan akhir (endnote) dan catatan tengah (innote/middlenote). Pada prinsipnya catatan kaki dan catatan akhir tidak berbeda, kecuali hanya pada letaknya. Catatan kaki terletak di bagian bawah bodi teks, sedangkan catatan akhir terletak pada bagian belakang. Catatan tengah (innote) adalah catatan yang diletakkan langsung di akhir tulisan (masuk dalam bodi teks). Dibandingkan dengan catatan akhir, catatan kaki lebih praktis, sebab pembaca bisa langsung mengetahui identitas sumber yang disebutkan dalam halaman yang sama dengan kutipan. Karena itu karya ilmiah cenderung lebih banyak menggunakan model catatan kaki dibandingkan dengan dua model yang lain. Catatan kaki dipilih sebagai teknik yang diberlakukan dalam penulisan karya ilmiah di Universitas Islam Kadiri(UNISKA)
Ketentuan yang harus dipenuhi dalam menuliskan identitas sebuah buku yang dijadikan sebagai sumber rujukan adalah sebagai berikut; nama penulis harus ditulis seperti susunan nama aslinya (tidak mendahulukan nama akhir/last name) dan tidak menyebutkan gelar yang dimiliki, koma, judul buku yang ditulis dengan cetak miring, kurung buka, tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun penerbitan, kurung tutup, koma, nomor halaman dan titik.
Contoh:
1Mitsuo Nakamura, The Crescent Arises over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a CentralJavaneseTown(Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1983), 45.
2Oemar Seno Adji, Peradilan Bebas Negara Hukum (Jakarta: Erlangga, 1985), 60.
Jika rujukan terdiri dari beberapa jilid atau juz, maka setelah tanda kurung tutup diikuti koma, juz/jilid (ditulis dengan menggunakan angka Romawi besar), titik dua, halaman, titik.
Contoh:
1al-Nawawi>, al-Majmu>’ Sharh} al-Muhadhdhab, (t.tp.: al-Maktabah al-Salafi>yah, 1950), V: 34.
3Jala>l al-Di>n al-Suyu>t}i>, al-Durr al-Mantsu>r fi> Tafsi>r al-Ma’thu>r (Beirut: Da>`r al-Ma’rifah, 1965), V: 89.
Jika catatan kaki langsung mengikuti catatan kaki sebelumnya (tidak diselingi dengan catatan kaki dari sumber lain), maka ditulis kata Ibid (ditulis tegak) atau نفس المرجع dalam bahasa Arab, diikuti titik, koma, nomor halaman dan tanda titik jika nomor halamannya berbeda dengan  kutipan sebelumnya. Jika nomor halaman sama dengan sebelumnya maka cukup ditulis Ibid diikuti tanda titik.
Contoh:
1Mitsuo Nakamura, The Crescent Arises over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a CentralJavaneseTown (Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1983), 45.
2Ibid., 32.
3Ibid.
Namun jika catatan kaki dari sumber yang sama tersebut diselingi dengan catatan kaki dari sumber lain, maka yang disebutkan adalah nama akhir penulis (last name), koma, beberapa kata dari judul buku, titik, koma, nomor halaman buku dan titik.
Contoh:
1Mitsuo Nakamura, The Crescent Arises over the Banyan Tree: A Study of the Muhammadiyah Movement in a CentralJavaneseTown (Yogyakarta: Gajahmada University Press, 1983), 45.
2Oemar Seno Adji, Peradilan Bebas Negara Hukum (Jakarta: Erlangga, 1985), 60.
3Montgomery Watt, Islamic Theology and Philosophy (Edinburg: Edinburg Universty Press, 1963), 67.
4Nakamura, The Crescent Arises., 46.
5Adji, Peradilan., 60.
Jika seorang penulis memiliki dua karya tulis atau lebih dan disebutkan untuk yang pertama kali secara berurutan dalam satu nomor catatan kaki, maka nama penulis tersebut diganti dengan kata idem. Titik koma ditulis untuk memisahkan antara kata idem dengan kata atau angka yang menjadi bagian dari identitas sumber sebelumnya.
Contoh:
1Howard M. Federspiel, The Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia (Ithaca, New York: Cornell University Modern Indonesia Project, 1970), 109; Idem, Popular Indonesia Literature of the Qur’an (Ithaca, New York: Cornell University Modern Indonesia Project, 1994), 142.
2M. Yahya Harahap, Tujuan Kompilasi Hukum Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990), 45; Idem, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama (Jakarta: Pustaka Kartini, 1990), 89.
Catatan kaki untuk artikel sebuah jurnal ditulis sebagai berikut: nama penulis artikel, koma, tanda kutip buka, judul artikel (dicetak tegak), tanda kutip tutup, koma, nama jurnal (dicetak miring), nomor edisi jurnal, kurung buka, bulan (kalau ada) dan tahun penerbitan, kurung tutup, koma, nomor halaman dan titik.
Contoh:
1George Makdisi, “The HanbaliSchool and Sufisme”, Humaniora Islamica, 2 (Januari, 1974), 61.
2Wael B. Hallaq, “A Tenth-Eleventh Century Treatise on Juridical Dialectic”, Muslim World, 77 (1987), 197-228.
Catatan kaki untuk artikel yang ditulis dalam sebuah buku ditulis sebagai berikut: nama penulis artikel, koma, tanda kutip buka, judul artikel (ditulis tegak), tanda kutip tutup, koma, teks “dalam”, judul buku (dicetak miring), koma, teks “ed.” atau تحقيق, nama editor, kurung buka, tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun penerbitan, kurung tutup, koma, nomor halaman dan titik. Demikian juga catatan kaki dari ensiklopedi ditulis sama dengan artikel, dengan menghilangkan kata “dalam”.
Contoh:
1Abdus Subhan, “Social and Religious Reform Movementh in the 19th Century among the Muslims”, dalam Social and Religious Movementh, ed. S. P. Sen (Calcutta: Institute of Historical Studies, 1979), 485.
1A. J. Wensinck, “Kufr”, The First Encyclopaedia of Islam, ed. M. Th. Houstma, et.al.  (Leiden: E. J. Brill, 1987), VII: 234.
Jika catatan kaki dari artikel yang sama kemudian diselingi dengan catatan kaki dari sumber lain, maka yang disebutkan adalah nama akhir penulis (last name), koma, tanda kutip buka, beberapa kata dari judul artikel, tanda kutip tutup, koma, nomor halaman buku dan titik. Demikian juga jika penulis memiliki dua karya tulis artikel atau lebih dan disebutkan untuk yang pertama kali secara berurutan dalam satu nomor catatan kaki, maka nama penulis tersebut diganti dengan kata idem.
Catatan kaki untuk karya terjemahan ditulis sebagai berikut: penulis buku asli, koma, judul (dalam bahasa terjemahan), koma, “terj”, titik, nama penerjemah, tanda kurung buka, tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, tahun terbitan, tanda kurung tutup, koma, halaman, titik.
Contoh:
1 C. Snouck Hurgronje, Islam di Hindia Belanda, terj. S. Gunawan (Jakarta: Bhatara Aksara, 1983), 45.
Jika sebuah buku ditulis, diedit atau diterjemahkan oleh dua orang, maka dua nama tersebut harus disebutkan semua. Namun jika jumlah penulis, editor atau penterjemahnya tiga orang atau lebih, maka hanya nama penulis, editor atau penterjemah pertama yang disebutkan diikuti dengan kata “et. al.” (artinya dengan orang lain) atau والآخرونdalam bahasa Arab.
Contoh:
1Fazlur Rahman, ”Revival and Reform in Islam”, dalam The Cambridge History of Islam, ed. P.M. Holt, et. al. (Cambridge: Cambridge University Press, 1970), Vol. 2, 632-638.
1Widjaja, et. al., Hukum tentang Perlindungan Konsumen (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), 20.
Catatan kaki untuk tesis magister atau disertasi doktor yang tidak diterbitkan ditulis sebagai berikut: nama penulis tesis atau disertasi, koma, tanda kutip buka, judul tesis atau disertasi (ditulis tegak), tanda kutip tutup, kurung buka, kata “Tesis MA” atau “Disertasi Doktor”, koma, nama perguruan tinggi, tempat perguruan tinggi, koma, tahun penulisan tesis atau disertasi, kurung tutup, koma, nomor halaman dan titik.
Contoh:
1Bisri Afandi, ”Shaikh Ahmad Al-Shurkati: His Role in Al-Irshad Movement” (Tesis MA, McGill University, Montreal, 1976), 34.
2Nurcholish Madjid, “Ibn Taymiyya on Kalam and Falsafah: A Problem of Reason and Revelation in Islam” (Disertasi Doktor, Chicago University, Chicago, 1984), 45.
Jika unsur dalam identitas sumber data ada yang tidak jelas atau hilang, maka harus dicantumkan tanda kehilangannya, yaitu dengan menuliskan teks t.tp. (tanpa tempat penerbit) atau دون المطبع, t.p. (tanpa [nama] penerbit) atau دون الطبع, dan t.t. (tanpa [tahun] penerbitan) atau دون السنة. Jika salah satu unsur dalam identitas tersebut diragukan karena tidak ditulis dengan jelas maka diberi tanda “?” (tanda tanya).
Contoh:
1al-Nawa>wi>, al-Majmu>’ Sharh} al-Muhadhdhab, (t.tp.: al-Maktabah al-Salafiyah, 1950), V: 34.
2H. A R. Gibb, Modern Trends in Islam (Chicago: t.p., 1947), 67.
3M. Hatta, “Politik Sintesa,” Aliran Islam (Februari, 194?), 45.
4S.D. Gotein, Studies in Islamic History and Institutions (Leiden: E.J. Brill, t.t.), 34.
Catatan kaki untuk ayat al-Qur’an ditulis sebagai berikut:  teks “QS” (singkatan al-Qur’an Surat),  titik, nama surat, tanda kurung buka, nomor surat, tanda kurung tutup, tanda titik dua, nomor ayat dan titik.
Contoh:
1QS. al Baqarah (2): 34; Ali Imran (3):  4.
Catatan kaki untuk Hadits ditulis dengan cara menempatkan nomor catatan kaki pada akhir matan Hadits, tanpa menyebutkan periwayatnya (rawa>hu), tetapi  catatan kaki ditulis dengan menyebutkan nama penulis kitab (mukharrij, seperti al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, dll.), koma,  judul kitab, kurung buka, kota penerbit, titik dua, penerbit, koma, tahun, kurung tutup, koma, jilid, titik dua, halaman, dan titik.
Contoh:
1Al-Bukha>ri>,  S}ah}i>h} al-Bukha>ri>(Beirut: Da>r al-Fikr, 1981), II: 217.
Catatan kaki untuk internet/website ditulis sebagai berikut: nama penulis artikel (jika ada), koma, judul artikel di antara dua tanda kutip, koma, nama website (cetak miring), koma, alamat website, koma, tanggal, bulan, dan tahun terbit (jika ada) dan tanggal akses.
Contoh:
1Kuntowijoyo,”Islamisasi Javaisme”, Republika on line, http://www. republika.co.id, 18 April 1998, diakses tanggal 2 Mei 1998.
2”Bila Istana Bersuasana Pesantren”, Republika on line,http://www. republika.co.id/9910/31/2934.htm, diakses tanggal 31 Oktober 1999.
Catatan kaki untuk hasil wawancara ditulis sebagai berikut: nama tokoh, koma, jabatan/kedudukan/pekerjaan, koma, tempat, koma, dan tanggal pelaksanaan wawancara.
Contoh:
1 Budi Setiono, Staf KMI Pondok Pesantren Darul Ma’rifah, Kediri, 24 September 2002.
         Catatan kaki untuk hasil observasi ditulis sebagai berikut:  teks “Observasi”, koma, lokasi atau tempat dilaksanakannya observasi, koma, tanggal pelaksanaan observasi, titik.
Contoh:
1 Observasi, di kampus STAIN Kediri, 18 Juli 2007.
Catatan kaki untuk artikel yang ditulis dalam bentuk CD-ROM, ditulis sebagai berikut: nama penulis, koma, judul artikel ditulis di antara dua tanda kutip, koma, judul CD yang ditulis miring, koma, “vol” (jika ada), kurung buka,“CD-ROM”, titik dua, judul CD, koma, “Digital”, koma, tahun, kurung tutup, koma, halaman, titik.
Contoh:.
1 Krashen, S., et. al., “Age, Rate and Eventual Attainment in Second Language Acquisition”, TESOL Quarterly, vol. 13 (CD-ROM: TESOL Quarterly, Digital, 1998), 573-82.
Catatan kaki untuk artikel yang dimuat dalam majalah atau koran ditulis sebagai berikut: nama penulis, koma, judul artikel yang ditulis di antara dua tanda kutip, koma, nama majalah atau koran ditulis miring, koma, tanggal, bulan, dan tahun (jika ada), nomor halaman dan titik. Jika nama penulis tidak ada maka catatan kaki ditulis tanpa menyebutkan nama penulis.
Contoh:
1 Gardner, H., “Do Babies Sing a Universal Song?”, Psychology Today, 70-77.
2 Suryadarma, S.C.V., “Prosesor dan Interface: Komunikasi Data”, Info Komputer, Juli 2004, 45.
3 Huda, M., “Menyiasati Krisis Listrik Musim Kering”, Jawa Pos, 13 September 2005, 6.
4 “Wanita Kelas Bawah Lebih Mandiri”,Jawa Pos, 22 April 2005, 6.
Catatan kaki untuk dokumen resmi pemerintah yang diterbitkan oleh suatu penerbit tanpa penulis dan lembaga, ditulis sebagai berikut; judul atau nama dokumen dicetak miring, koma, kota (tempat yang menjadi ibu kota pemerintah pemilik dokumen), titik dua, penerbit, tahun terbit, dan titik.
Contoh:
1Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Armas Duta Jaya, 2004.
Catatan kaki untuk dokumen suatu lembaga dan ditulis atas nama lembaga yang bersangkutan ditulis sebagai berikut; nama lembaga, koma, judul buku yang ditulis miring, kurung buka, tempat lembaga yang menerbitkan, titik dua, nama lembaga yang menerbitkan, koma, tahun penerbitan, kurung tutup dan titik.
Contoh:
1 Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Pedoman Penulisan Laporan Penelitian (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2000).
Catatan kaki untuk makalah yang disajikan dalam seminar, workshop, diklat, atau lokakarya ditulis sebagai berikut: nama penulis, koma, judul makalah ditulis tegak di antara dua tanda kutip, titik, teks “Makalah disajikan dalam”,  forum tempat penyajian, koma, lembaga penyelenggara, koma, kota, koma, tanggal, bulan, tahun, dan titik.
Contoh:
1 Lailun Nuzul, “Penulisan Laporan Penelitian”. Makalah disajikan dalam Lokakarya Penelitian Tingkat Dasar, STAIN, Kediri, 12 Agustus 2005.
Catatan kaki untuk email pribadi ditulis sebagai berikut: nama penulis, koma, kurung buka, alamat email pengirim, kurung tutup, koma, judul ditulis tegak di antara dua tanda kutip, titik, teks “Email kepada”, nama pemilik email yang dituju, kurung buka, alamat email tujuan, kurung tutup, koma, tanggal email, dan titik.
Contoh
1 Dali S. Naga, (ikip-jkt@indo.net.id), “Artikel untuk JIP”. Email kepada Ali Syaukah (jippsi@mlg.ywcn.or.id), 1 Oktober 1997.

B.     Teknik Penulisan Daftar Pustaka/Bibliography
Daftar Pustaka atau Bibliography adalah daftar semua sumber yang dipakai sebagai rujukan dalam penulisan suatu karya ilmiah. Buku dan sumber yang tidak dijadikan sebagai rujukan tidak boleh dicantumkan dalam daftar pustaka.
Teknik penulisan sumber dalam daftar pustaka/bibliography hampir sama dengan penulisan catatan kaki, hanya ada sedikit perbedaan. Unsur-unsur yang ditulis adalah sebagai berikut:
Pertama, pengarang atau penulis sumber rujukan. Penulisannya sebagai berikut: menuliskan nama akhir (last name) dan diberi tanda koma, kemudian diikuti nama awal lengkap (first name), selanjutnya nama penulis kedua dan seterusnya (bila ada) dan diakhiri dengan titik.
Kedua, judul buku. Penulisannya sebagai berikut: judul buku dicetak miring dan diikuti dengan tanda titik.
Ketiga,nama kota tempat sumber/buku diterbitkan, nama penerbit, dan tahun penerbitan. Penulisannya sebagai berikut: nama kota, titik dua, nama penerbit, koma, tahun penerbitan, titik.
Contoh:
Hamalik, Oemar. Evaluasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1990.
Nasution, S. Mengajar dengan Sukses.Bandung: Jemmars, 1980.
Jika seorang penulis mempunyai beberapa sumber yang dicantumkan dalam bibliography, maka nama penulisnya hanya dicantumkan pada sumber pertama saja. Sedangkan pada sumber kedua dan seterusnya nama tersebut diganti dengan tanda sambung sebanyak 9 kali (---------), kemudian diikuti dengan titik.
Contoh:
Hamalik, Oemar. Pengajaran Unit Studi Kurikulum dan Metodologi. Bandung:   Alumni, 1982.
---------, Administrasi dan Supervisi Pengembangan Kurikulum,Bandung: Mandar Maju, 1992.
---------, Kurikulum dan Pembelajaran,Jakarta: Bumi Aksara, 1999.
Jika penulisan sumber lebih dari satu baris, maka baris kedua dan seterusnya ditulis masuk 1, 2 cm dari margin kiri dengan jarak satu spasi.
Contoh:
Langgulung, Hasan. Manusia dan Pendidikan Suatu Analisis Psikologi dan Pendidikan.Jakarta: Pustaka Alhusna, 1988.
Jika sumber ditulis oleh dua orang penulis, maka nama penulis pertama ditulis dengan cara dibalik seperti di atas dan nama penulis kedua ditulis lengkap sesuai dengan nama aslinya.
Contoh:
Soetopo, Hendiyat dan Wasty Soemanto. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum sebagai Substansi Problem Administrasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara, 1986.
Jika sumber ditulis oleh tiga orang penulis atau lebih, maka penulisannya dengan menyebutkan nama penulis pertama dan diikuti teks “et. al.”.
Contoh:
Slamet et. al. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Jakarta: Depdiknas, 2001.
Jika sumber rujukan dalam bentuk artikel, baik yang berasal dari jurnal maupun buku dan sebagainya, maka judul artikel tetap ditulis tegak di dalam tanda petik (“…”), sedangkan nama jurnal ditulis miring. Edisi serta halaman artikel harus dicantumkan dari halaman pertama sampai terakhir dan sebelumnya diberi tanda titik dua.
Contoh:
Subandijah. “Partisipasi Masyarakat dalam Pelaksanaan Muatan Lokal di Sekolah Dasar se-Jawa Tengah”. Kependidikan, (1992), XXII: 30-39.
Bruinessen, Martin van. “Pesantren dan Kitab Kuning: Pemeliharaan dan Kesinambungan Tradisi Pesantren”. Ulumul Qur’an, (1994), Vol. 4: 5-8.
Jika sumber  rujukan berupa artikel dalam koran atau majalah, maka dengan menuliskan nama penulis, titik, judul artikel ditulis tegak di antara dua tanda kutip, titik, nama majalah atau koran ditulis miring, koma, diikuti oleh tanggal, bulan dan tahun, kemudian diakhiri dengan nomor halaman.
Contoh:
Johan. “Menyiasati Krisis Listrik di Indonesia”. Jawa Pos, 12 Juli 2005, 6.
Jika sumber rujukan berupa artikel tanpa penulis, maka ditulis judul artikel di antara dua tanda kutip, titik, nama koran ditulis miring, koma, diikuti tanggal, bulan, tahun, dan halaman.
Contoh:
“Peran Wanita dalam Merebut Kemerdekaan”. Jawa Pos,  20 Agustus, 2005, 3.
Jika sumber rujukan berupa artikel dalam CD-ROM, penulisannya sama dengan rujukan yang berasal dari artikel dalam jurnal atau majalah hanya saja ditambah dengan penulisan “CD-ROM” dalam kurung.
Contoh:
Hanafi. “Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Pengapdosian Inovasi”. Forum Penelitian, (CD-ROM: Forum Penelitian Digital, 2002). 34-37.
Jika sumber rujukan berupa karya terjemahan, penulisannya sebagai berikut: nama penulis asli, titik, judul terjemahan dicetak miring, titik,  teks “Terj.”, nama penerjemah, titik, tempat penerbitan, titik dua, nama penerbit terjemahan dan diakhiri dengan tahun penerbitan terjemahan.
Contoh:
Hurgronje, C. Snouck. Islam di Hindia Belanda., Terj. S. Gunawan. Jakarta: Bhatara Aksara, 1983.
Jacobs, L.C. & Razavieh, A. Pengantar Penelitian Pendidikan. Terj. Arief Furchan. Surabaya: Usaha Nasional, 1996.
Jika sumber rujukan berasal dari skripsi, tesis atau disertasi, penulisannya sebagai berikut: nama penulis, titik, judul skripsi ditulis tegak di antara dua tanda kutip, titik, teks “disertasi”, “tesis”  atau “skripsi”, diikuti teks “tidak diterbitkan”, titik, nama kota tempat perguruan tinggi, titik dua, nama fakultas dan nama perguruan tinggi, koma, tahun, dan titik.
Contoh:
Santoso, Budi. “Perkembangan Kompetensi Kewacanaan Pembelajaran Bahasa Asing diLPTK”. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Keguruan Universitas Negeri Malang, 2004.
Jika sumber rujukan berupa makalah yang disajikan dalam seminar, workshop, diklat, atau lokakarya, penulisannya sebagai berikut: nama penulis, titik, judul makalah ditulis tegak di antara dua tanda kutip, titik, teks “Makalah disajikan dalam” diikuti nama pertemuan, koma, lembaga penyelenggara, titik, tempat penyelenggaraan, koma, tanggal, bulan dan tahun penyelenggaraan.
Contoh:
Abdullah. “Penulisan Karya Ilmiah dalam Jurnal”. makalah disajikan dalam Lokakarya Penelitian Tingkat Dasar bagi Dosen STAIN Kediri, P3M STAIN Kediri. Kediri, 12 Juli 2005.
Jika sumber rujukan dari dokumen resmi pemerintah yang diterbitkan oleh suatu penerbit tanpa penulis dan tanpa lembaga, penulisannya sebagai berikut: judul atau nama dokumen ditulis di bagian awal dengan cetak miring, titik, diikuti kota penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun penerbitan, dan titik.
Contoh:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.Semarang: Thoha Putra, 2004.
Jika sumber rujukan dari lembaga yang ditulis atas nama lembaga tersebut, penulisannya sebagai berikut: nama lembaga penanggungjawab, titik, judul karangan yang dicetak miring, titik, tempat penerbitan, titik dua, nama lembaga yang bertanggungjawab atas penerbitan karangan tersebut, koma, tahun penerbitan.
Contoh:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian.  Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2001.
Jika sumber rujukan berasal dari internet, penulisannya sebagai berikut: nama penulis, titik, judul ditulis tegak di antara dua tanda kutip, titik, nama jurnal (dicetak miring) dengan diberi keterangan dalam kurung (online), koma, volume, koma, nomor, koma, tahun, dan diakhiri dengan alamat sumber rujukan tersebut disertai dengan keterangan kapan diakses, di antara tanda kurung. 
Contoh:
Khumaidi. “Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya”. Jurnal Ilmu Pendidikan (online), jilid 5, No.6, 2002, (http://www.malang.ac.id, diakses 20 September 2002).

Catatan:
Penulisan daftar pustaka/bibliography berurutan sesuai abjad. Apabila huruf pertama sama, maka harus dilihat huruf kedua. Bila huruf kedua sama, maka harus dilihat huruf ketiga, begitu seterusnya.
Demikian sobat share sedikit ilmu tentang teknik penulisan catatan kakinya. Mimin pamit ya. Waalaikumsalam wr.wb  Keep Smile and Matursuwun :).


Selasa, 20 Desember 2016

Menggunakan Apikasi Wondershare QuizCreator Sebagai Media Efektif

Assalamualikum sobat,

Kembali lagi ya sama mimin , yang pastinya bakalan share pengalaman tidak lebih dari dunia pendidikan. Pada artikel kali ini saya akan share cara membuatan pertanyaan untuk siswa melalui aplikasi wondershare Quiz Creator. Jadi apa sih wondershare quiz creator itu?. wondershare quiz creator adalah software pembuat kuis yang memungkinkan pelatih ataupun pendidik membuat kuis berbasis Flash dan survei dengan multimedia.Secara cepat merancang penilaian dan mempublikasikan secara online, dan kemudian melacak hasil kuis dan menerima laporan mendalam melalui Wondershare QuizCreator online yang bekerja dengan QuizCreator.

Dengan menggunakan Wondershare QuizCreator ini kita dengan sangat mudah membuat kuis ataupun survei di atas media digital multimedia.sebuah aplikasi yang digunakan pelajaran ini saya dapat dari matakuliah TEFL . Aplikasi ini cocok sekali buat kalian yang kuliah dalam jurusan pendidikan baik itu pendidikan bahasa inggris matematika ipa dan sebagainya ya sobat. Jadi kalian tidak perlu ribet ribet ataupun fotokopi lembar soal- soal yang akan kalian ujikan ke calon siswa kalian. Apalagi jika suatu hari kalian dapat tugas ngajar dan di tempatkan pada kelas yang sudah modern anda bisa memakai aplikasi ini dan sangat saya RECOMMENDED banget. Okhay langsung saja sobat, kita mulai langkah-langkahnya dibawah ini;

1. DOWNLOAD APLIKASI WONDERSHARE


langkah yang pertama tentunya sobat harus punya aplikasi wondershare QC ini ya  , nah jika aplikasi sukses terinstal,  kalian bisa langsung buka aplikasi tersebut dan jangan lupa siapkan soal atau pertanyaan yang sesuai dengan sasaran kelas dan materi yang akan kalian ujikan ya sobat. Nah saat dibuka akan tampak gambar  seperti ini,



2. KLIK NEW A CREATOR.


Langkah selanjutnya pilih menu yang create a new quiz ya sobat untuk membuat quiznya dan langsung akan muncul seperti ini,



3. KLIK JENIS SOAL YANG SESUAI MATERI.


Setelah itu tinggal pilih jenis kuis mana yang sesuai dengan materi kalian . Misalnya kalian ingin membuat soal pilihan ganda pilih menu yang multileple choice maka akan tampak gambar seperti ini sobat dan jangan lupa sertakan kunci jawaban dan juga keterangannya ya sobat agar calon siswa anda tau kenapa dia salah .

4. ATUR POINT SETIAP PERTANYAAN.


Ini merupakan langkah yang sangat penting juga karna mempengaruhi nilai calon siswa yang akan mengerjakan soal kalian sobat becareful dengan langkah ini jadi sesuka kalian deh setiap soal dapet nilai berapa sesuai dengan tingkat kesulitan soal tersebut jangan lupa hasil paling akhir kalau benar semua harus seratus ya sobat hehe jangan satu juta nanti siswa kalian bingung. Nah menu tersebut terdapat di pojok kanan bawah,


5. KLIK OK


Dalam tahap ini kalian bisa klik oke ataupun kalian bisa preview dulu. Atau jika kalian ingin tambah pertanyaan baru bisa langsung klik new question.

NB: Langkah terakhir adalah menghias seperti mengganti background dan juga sound dan juga menanmbah gambar apabila jawaban salah atau benar, hasil bagus atau tidak. Kemudian simpan.


Nah gimana mudahkan sobat nanti kurang lebih akan jadi seperti di bawah ini


Demikian ya sobat share pengalaman dalam materi ini  jangan lupa komentarnya KEEP SMILE AND MATURSUWUN dan tetap semangat :) .